August 2012
34 posts
Ibuk, Iwan Setyawan (via hujanbulandesember)]
begitukah ?
Sasi si cacing dan segerombolan cacing lainnya tinggal di sebuah sela-sela tanah yang biasa disebut Gang Tan. Sasi si cacing sangat bahagia hidup di dalam Gang Tan. Disana makanan sangat cukup karena banyak sisa-sisa bahan organik yang membusuk. Kehidupan di Gang Tan sangat bahagia.
Tetapi suatu hari saat Sasi si cacing sedang makan, tiba-tiba dia melihat ada cahaya terang dibalik sela-sela tanah. Sasi si cacing sangat penasaran dan berjalan menuju cahaya tersebut. Sasi si cacing terus berjalan dan terus hingga sampai pada sisi terluar tanah. Sasi si cacing sangat terpesona melihat indahnya dunia. Sebelumnya dia tidak pernah keluar dari dalam tanah.
Sasi si cacing terus berjalan hingga dia bertemu dengan Kuki si kupu-kupu yang sedang terbang rendah.
“hai, kau cantik sekali.” ucap Sasi si cacing.
“terima kasih. hai cacing, namaku kuki si kupu-kupu. siapa namamu?”tanya Kuki si kupu-kupu.
“namaku sasi si cacing. kau seekor kupu-kupu? apakah semua kupu-kupu indah sepertimu?”
“hahaha tentu, kami memang terkenal dengan sayap yang indah ini. apa kau baru pertama kali melihatnya?”
“ya, aku baru pertama kali keluar dari tanah.”ujar sasi si cacing.
Tiba-tiba kicauan burung terdengar merdu.
“itu suara apa kuki?” tanya sasi si cacing.
“itu suara burung, kau tak tahu? berhati-hatilah dengan burung. dia dapat memakanmu. segeralah kau kembali ke dalam tanah.” ucap kuki si kupu-kupu dengan panik.
“begitukah ? baiklah saya akan pulang. senang bertemu denganmu kuki.”
Sasi si cacing segera bergegas menuju rumah. Sesampainya dirumah, dia termangu sedih.
“Mengapa kau sedih, nak?”tanya ibu Sasi si cacing.
“Aku tadi keluar melihat alam luar bu.”
“Astaga sasi, untungnya kamu baik-baik saja sekarang. berjanjilah, kamu tak akan mengulangi lagi ya. Suatu saat ibu akan mengajakmu melihat dunia luar, Nak. Tapi sekarang belum saatnya.”
“Iya Bu. Aku berjanji.” jawab sasi si cacing.
“Lalu mengapa kau bersedih, Nak?”
“Aku sedih Bu. Diluar aku bertemu dengan Kuki si kupu-kupu. Dia sangat indah Bu. Atau seekor burung yang memiliki suara indah. Aku ingin sepertinya.” Ucap Sasi si cacing dengan murung
“Kita memang tak secantik kupu-kupu atau memiliki suara seindah burung, Nak. bersyukurlah kau terlahir sebagai cacing,” ujar Ibu sasi si cacing sambil tersenyum.
“Lihatlah Bu. Kita kotor dan hidup di dalam tanah. Tidak seperti mereka.”
“Hidup tidak hanya sekadar cantik atau memiliki suara yang indah, Nak. Lihatlah seberapa beruntungnya kita. Kamu tahu, tanah subur ini karena kita. Dengan tanah yang subur, kita telah menciptakan kehidupan. Bunga-bunga dapat tumbuh, Pohon pun demikian. Kamu tahu, kupu-kupu sangat membutuhkan bunga. begitupula dengan burung yang membutuhkan pohon untuk tempat berteduh.” jelas Ibu sasi si cacing dengan bijak.
Sasi si cacing pun tersenyum bangga. Dia mengerti bahwa betapa beruntungnya dia terlahir sebagai seekor cacing. Hidupnya dapat bermanfaat untuk orang lain :)
keegoisan hadir untuk mendapatkan sesuatu, sedangkan keikhlasan hadir untuk memberi sesuatu, apapun itu…..
Pernah menginginkan sesuatu ? ingin sekali. Sampai rasanya sebuah harga mati kita harus memiliki hal tersebut. Aku pernah. Saat itu aku masih memakai seragam merah putih. Ada sesuatu yang aku inginkan. Mungkin sesuatu yang biasa diinginkan anak seusiaku. Ya, sebuah mainan. Mainan yang memang sedang heboh oleh teman perempuan sebayaku. Saat itu aku juga ingin memilikinya. Boneka barbie. Boneka cantik menyerupai manusia yang dapat diganti-ganti pakaiannya. Ya, tapi boneka barbie yang ku temui saat di pasar itu berbeda. Aku jatuh cinta pada saat pertama kali melihatnya. Boneka barbie yang dibungkus mengenakan plastik berwarna putih dengan gambar bunga-bunga berwarna ungu. Boneka tersebut juga memakai dress berwarna ungu. Sangat cantik dan aku sangat ingin memilikinya. Aku pun berharap mama ku mau membelikannya untukku. Aku merengek-rengek, tetapi mama ku tak kunjung luluh. Mama bilang mainanku dirumah sudah cukup banyak dan buat apa beli lagi.
Akhirnya aku pulang dengan muka muram. Sesampainya dirumah, aku mencari cara untuk dapat memiliki boneka tersebut. Kalau meminta kepada Ayah, pasti hasilnya nihil. Hingga terlintas untuk menabung untuk membeli boneka tersebut. Ya, memang harganya pun tidak terlalu mahal. Tiga puluh ribu rupiah. Tetapi tidak terlalu murah juga untuk usia seumurku saat itu. Uang saku ku saat itu hanya dua ribu rupiah. Apabila aku sisihkan seribu per hari, kira-kira dalam waktu sebulan kemungkinan aku sudah mendapatkan uang sejumlah tiga puluh ribu rupiah. Cukup untuk membeli boneka barbie itu.
Akhirnya aku pun bersabar hingga sebulan dengan uang jajan seadanya. Ya, mungkin pengorbanan yang biasa saja. Tapi tidak bagiku saat itu. Karena kadang aku harus menahan lapar karena tidak jajan. Beruntung saat mama membuatkan bekal makan untukku. Walaupun hampir setiap hari aku minta dibawakan bekal makan oleh mama. Saat mama heran dan menanyakan mengapa anaknya berubah menjadi suka membawa bekal. Aku hanya tersenyum dan berkata ada sesuatu yang aku inginkan. Mungkin mama sudah hafal betul dengan tabiatku. Jadi mama hanya menanyakan sebatas itu.
Akhirnya sebulan tiba juga, sehabis pulang sekolah aku berencana menuju pasar itu. Ya, untuk apalagi selain membeli boneka barbie itu. Hari itu aku sangat senang. Perjalanan menuju pasar ditemani senandung lagu yang aku nyanyikan selama perjalanan. Selain itu, aku juga membayangkan segera sampai rumah dan dapat bermain dengan boneka itu. Ya, boneka impian. Tak terasa, sampai juga ditoko itu. Tapi, ternyata. Ya, boneka itu sudah tidak terpajang lagi disana. Akupun mencoba bertanya kepada pelayan toko, ternyata boneka barbie tersebut sudah terjual.
Aku lemas, sedih sekali rasanya. Teringat pengorbanan sebulan terakhir ini. Akhirnya aku pulang dengan langkah gontai, sembari sesekali melihat uang jerih payah ku sebulan ini. Bingung hendak aku apakan uang tersebut. Aku duduk disebuah halte, sibuk berpikir. Dan saat itu seorang nenek tua menghampiri. Beliau berkata belum makan hari ini. Iba. Tanpa pikir panjang akhirnya aku memberikan uang tersebut kepada nenek tersebut. Yah, memang akhirnya aku tidak membeli boneka itu. Tapi akhirnya uang tersebut berada kepada yang membutuhkannya. Sedih? Sama sekali tidak. Entah mengapa ada rasa senang seketika melihat nenek tersebut tersenyum bahagia menerima uang itu. Setelah itu, aku pulang dengan riang. Sesampainya dirumah aku ceritakan hal tersebut kepada mama. Ya, kalimat mama saat itu kembali terngiang kini, bahwa takdir itu termasuk rencana-Nya. Rencana yang tidak bisa kita ubah. Walaupun sekuat apapun usaha kita, sekencang apapun kita berlari, tetap takdir itu akan terjadi. Tapi akan selalu ada hikmah disetiap kejadian. Ya, mungkin kamu dan bonekamu itu belum ditakdirkan bersama. Jadi ikhlaskan saja ya Nak. Aku mengangguk seraya tersenyum dan menyahut dalam hati, uang tersebut juga telah bertemu takdirnya ma, tertakdir kepada nenek tersebut.
-Arai, Sang Pemimpi-
Alhamdulillah. Masha Allah
Citra A. Mahfud
(via kurniawangunadi)
- Saat teman saya mengajar di bimbel :
- teman saya : udah pada tau belum nih pengertian garis sejajar itu apa?
- siswa : udah kaaaak..
- teman saya : apa coba?
- siswa : ... *hening* ...
- teman saya : oke ya, mungkin ada yang lupa jadi kakak jelasin lagi aja. Nah, jadi, dua garis itu dikatakan sejajar jika kedua garis itu terletak di bidang datar, dan kalo kita tarik garis sepanjang-panjangnya dari mereka berdua, mereka gak bakal pernah berpotongan atau bertemu. *sambil gambar di papan*
- siswa : ooh, iya kaaak.
- teman saya : udah pada ngerti ato ada yang mau bertanya?
- salah satu siswa : hmm. Kak, berarti misalkan ada dua orang nih, kalo mereka gak berjodoh itu berarti garis hidup mereka sejajar ya?
- teman saya : ... *hening* .... Hmm, mungkin saja begitu ._.
July 2012
143 posts
Dan ajaib, inilah yang jarang diketahui banyak orang, penyu hanya memiliki satu pasangan selama hidupnya. Saat mereka kembali untuk pertama-kalinya, mereka secara naluriah, akan jatuh cinta dengan penyu betina yang dulu pertama kali ditemuinya. Saat membentuk barisan di pantai dulu, saat kanak-kanak. Itulah yang akan menjadi pasangan sehidup-semati. Saat mereka bertemu kembali, mereka akan melakukan tarian penyu. Setelah induk betina bertelur, pasangan itu berpisah lagi. Menjelajahi samudera luas.
Musim berlalu, ketika musim kawin tiba, mereka akan kembali. Kembali meski terluka, tidak peduli batok keras mereka retak, tangan-tangan lumpuh. Kembali menemukan pasangannya dulu. Tidak tertukar. Tidak berganti. Sejauh apapun mereka menjelajahi lautan. Sejauh apa pun mereka melihat sudut dunia. Secantik apa pun penyu betina lain yang ditemukannya.
Mereka akan kembali. Kembali ke takdir pasangannya. Karena itulah janji setia penyu. Terucapkan saat kaki-kaki kecil mereka, kaki-kaki kanak-kanak mereka menuju lautan luas. Janji setia pada takdir pasangannya.
” —Tere Liye dalam “Sunset Bersama Rosie” (via nitanydya)