ma fi qalbi ghairullah ♥
(via ohsofrolicsomeness)
Reblogged from sayasayangislam August 15th, 2012 273 notes
ma fi qalbi ghairullah ♥
(via ohsofrolicsomeness)
Reblogged from sayasayangislam August 15th, 2012 273 notes“ Jangan terlalu sibuk membuat daftar permintaan kepada Tuhan.. Sesekali, buat daftar apa saja yang harus engkau syukuri dari Tuhan..
Rie’A (via kurniawangunadi)
(via abdulmatin)
August 15th, 2012 94 notes“ jika rumah gubukku adalah istana yang nyaman untukmu, singgahlah! Ambil kuncinya di tangan ayahku. Aku menantimu di dalam gubuk.
Fikri Habibullah (via mfsyaa)
(via mfsyaa)
Reblogged from greatpurple August 15th, 2012 17 notes“ Melahirkan itu seperti berdiri di ambang batas kehidupan dan kematian
Ibuk, Iwan Setyawan (via hujanbulandesember)]
begitukah ?
Reblogged from anothersunstory August 15th, 2012 6 notes
Bercengkerama dengan Tuhan adalah caraku menitipkan kebahagiaan mama dan ayah dalam dekap yang sama,sampai tutup usia ~ Evie Puspitarini
(via vetha)
Reblogged from lyssababe August 14th, 2012 340,391 notesSasi si cacing dan segerombolan cacing lainnya tinggal di sebuah sela-sela tanah yang biasa disebut Gang Tan. Sasi si cacing sangat bahagia hidup di dalam Gang Tan. Disana makanan sangat cukup karena banyak sisa-sisa bahan organik yang membusuk. Kehidupan di Gang Tan sangat bahagia.
Tetapi suatu hari saat Sasi si cacing sedang makan, tiba-tiba dia melihat ada cahaya terang dibalik sela-sela tanah. Sasi si cacing sangat penasaran dan berjalan menuju cahaya tersebut. Sasi si cacing terus berjalan dan terus hingga sampai pada sisi terluar tanah. Sasi si cacing sangat terpesona melihat indahnya dunia. Sebelumnya dia tidak pernah keluar dari dalam tanah.
Sasi si cacing terus berjalan hingga dia bertemu dengan Kuki si kupu-kupu yang sedang terbang rendah.
“hai, kau cantik sekali.” ucap Sasi si cacing.
“terima kasih. hai cacing, namaku kuki si kupu-kupu. siapa namamu?”tanya Kuki si kupu-kupu.
“namaku sasi si cacing. kau seekor kupu-kupu? apakah semua kupu-kupu indah sepertimu?”
“hahaha tentu, kami memang terkenal dengan sayap yang indah ini. apa kau baru pertama kali melihatnya?”
“ya, aku baru pertama kali keluar dari tanah.”ujar sasi si cacing.
Tiba-tiba kicauan burung terdengar merdu.
“itu suara apa kuki?” tanya sasi si cacing.
“itu suara burung, kau tak tahu? berhati-hatilah dengan burung. dia dapat memakanmu. segeralah kau kembali ke dalam tanah.” ucap kuki si kupu-kupu dengan panik.
“begitukah ? baiklah saya akan pulang. senang bertemu denganmu kuki.”
Sasi si cacing segera bergegas menuju rumah. Sesampainya dirumah, dia termangu sedih.
“Mengapa kau sedih, nak?”tanya ibu Sasi si cacing.
“Aku tadi keluar melihat alam luar bu.”
“Astaga sasi, untungnya kamu baik-baik saja sekarang. berjanjilah, kamu tak akan mengulangi lagi ya. Suatu saat ibu akan mengajakmu melihat dunia luar, Nak. Tapi sekarang belum saatnya.”
“Iya Bu. Aku berjanji.” jawab sasi si cacing.
“Lalu mengapa kau bersedih, Nak?”
“Aku sedih Bu. Diluar aku bertemu dengan Kuki si kupu-kupu. Dia sangat indah Bu. Atau seekor burung yang memiliki suara indah. Aku ingin sepertinya.” Ucap Sasi si cacing dengan murung
“Kita memang tak secantik kupu-kupu atau memiliki suara seindah burung, Nak. bersyukurlah kau terlahir sebagai cacing,” ujar Ibu sasi si cacing sambil tersenyum.
“Lihatlah Bu. Kita kotor dan hidup di dalam tanah. Tidak seperti mereka.”
“Hidup tidak hanya sekadar cantik atau memiliki suara yang indah, Nak. Lihatlah seberapa beruntungnya kita. Kamu tahu, tanah subur ini karena kita. Dengan tanah yang subur, kita telah menciptakan kehidupan. Bunga-bunga dapat tumbuh, Pohon pun demikian. Kamu tahu, kupu-kupu sangat membutuhkan bunga. begitupula dengan burung yang membutuhkan pohon untuk tempat berteduh.” jelas Ibu sasi si cacing dengan bijak.
Sasi si cacing pun tersenyum bangga. Dia mengerti bahwa betapa beruntungnya dia terlahir sebagai seekor cacing. Hidupnya dapat bermanfaat untuk orang lain :)
August 13th, 2012 0 notes #coretan